Managemen Qalbu

Wednesday, August 02, 2006

Saat-saat Matinya Hati

Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang berat.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 7)

Pernahkah di antara kita suatu ketika sampai pada keadaan berupa sama sekali tidak merasakan sedih dan kecewa karena terlewatkannya suatu amal kebaikan yang sebenarnya harus dan bisa kita lakukan? Bersamaan dengan itu betapa kita pun sama sekali tidak merasakan penyesalan manakala hati dan tubuh ini tergelincir berbuat dosa dan kemaksiatan? Bila kita pernah atau bahkan saat ini sedang mengalami hal semacam itu, maka waspadalah, karena semua itu tidaklah diragukan lagi sedikit pun merupakan salah satu dari aneka tanda matinya hati (qalbun mayyit).

Hati yang mati itu tidak ada bedanya dengan jasad yang sudah tidak bernyawa. Kendati dicubit, dipukul, bahkan diiris-iris sekalipun, ia tidak akan merasakan apa-apa. Bagi orang yang hatinya sudah mati, saat melakukan perbuatan baik dan saat melakukan perbuatan buruk adalah hal yang biasa-biasa saja, tidak ada nilainya sama sekali. Bahkan, ia bisa merasa bangga akan masa lalunya yang penuh berhiaskan aneka perbuatan nista dan kemaksiatan, semisal mencuri, berzina, menipu, korupsi, berbuat zalim terhadap orang lain, dan sebagainya. Kalaupun berbuat suatu kebaikan, sekecil apa pun, maka itu hanyalah akan membangkitkan kebanggaan pada diri sendiri, rindu pujian, serta penuh rasa ujub dan takabur belaka.

Adapun ciri utama pemilik qalbun mayyit adalah menolak kebenaran dari Allah Azza wa Jalla dan selalu gemar berlaku zalim terhadap sesama. Kedua ciri yang nyata ini dikarenakan Allah telah menutup dan mengunci rapat-rapat hatinya, sehingga kendatipun wujud fisik dan psikisnya masih manusia, namun sesungguhnya ia tidak ubahnya seperti binatang ternak atau bahkan lebih hina dan sesat lagi daripada itu.

Beberapa firman Allah sebagaimana termaktub dalam ayat-ayat Alquran telah memberikan gambaran yang jelas ihwal sosok manusia seperti ini. Wahai hamba-hamba Allah yang sangat takut tergolongkan memiliki qalbun mayyit, simaklah peringatan-peringatan Allah yang Maha perkasa tentang hal ini agar engkau mendapatkan pelajaran.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka memunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(Q.S. Al-Araaf [7]: 179).

Mungkin kita pernah membaca sebuah berita di surat kabar tentang seorang pemuda yang menginginkan dibelikan sepeda motor oleh ibunya, namun sang ibu ternyata tidak meluluskannya? Saking dongkolnya dengan tanpa berpikir panjang lagi, pemuda itu mengambil sebilah sangkur. Dijambaknya rambut sang ibu, lalu disembelihnya lehernya. Ketika ayahnya datang karena mendengar jeritan yang menyayat hati, ia pun langsung menyambutnya dengan tusukan sangkur ke dada sang ayah. Kedua orang tua yang telah membe-sarkannya itu akhir-nya tewas seketika di tangan anak kandungnya sendiri yang amat sangat durjana itu.

Mengapa seorang anak bisa menjadi biadab seperti itu? Jawabnya, karena ia memiliki qalbun mayyit. Ia sudah tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Yang dikenalnya cuma satu, yaitu memuaskan hawa nafsu.

Tidak hanya orang semacam itu yang dapat diambil sebagai contoh. Banyak kita saksikan dan kita simak di media cetak atau-pun elektronik mengenai perilaku dzalim yang jelas-jelas menunjukkan bukti tentang matinya hati. Ada ayah yang tega menodai anak kandungnya sendiri. Ada anak yang menodai berkali-kali ibu kandung dan adiknya sendiri yang masih di bawah umur. Ada tiga pemuda tanggung yang karena berada dalam pengaruh narkoba dan tontonan VCD porno, lalu mereka dengan teramat teganya menganiaya sampai mati dua gadis kecil usia sepuluh tahunan, dan bahkan setelah itu mereka pun memperkosanya berkali-kali. Bahkan, tidak sedikit pula seorang ibu yang gelap mata menjual kegadisan anak kandungnya sendiri kepada lelaki hidung belang.

Tidak kalah dahsyatnya dalam hal kezaliman daripada semua itu, kendati dalam konteks yang lain adalah: pengusaha-pengusaha yang telah dititipi harta duniawi yang melimpah ruah oleh Allah, namun toh mereka terus-menerus memeras keringat para karyawannya sampai habis tandas. Tidak sedikit pula orang yang sudah dititipi pangkat dan kekuasaan yang tinggi oleh Allah, kemudian dengan kedudukannya itu ia berlaku sewenang-wenang serta menindas pihak yang lemah tiada daya. Orang-orang semacam itu tega-teganya tertawa-tawa dan menikmati kesenangan duniawi di atas penderitaan orang lain. Ketahuilah, setinggi dan sehebat apa pun kedudukan mereka, tetaplah mereka itu si qalbun mayyit!

Dengan demikian, hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal Tuhannya. Hati seperti ini senantiasa berada dan berjalan bersama keinginan hawa nafsunya walaupun itu dibenci dan dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla. Ia sama sekali tidak peduli apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. Pendek kata, ia telah menghamba kepada selain Dia. Bila mencintai sesuatu, ia mencintainya karena hawa nafsunya. Bila membenci sesuatu pun, maka ia membencinya karena hawa nafsunya. Begitu pula apabila ia menolak atau mencegah sesuatu.

Hawa nafsu telah menguasai dan bahkan menjadi pemimpin dan pengendali bagi dirinya. Kebodohan dan kelalaian telah sekian lama menjadi sopirnya. Dengan demikian, ke mana saja ia bergerak, maka geraknya itu benar-benar telah diselubungi oleh pola pikir demi meraih kesenangan duniawi semata. Pendek kata, hatinya telah tertutup oleh lapisan gelap cinta dunia dan memperturutkan hawa nafsu angkara murka.

Hawa nafsu itu telah sedemikian rupa menulikan telinganya, membutakan matanya, membodohkan akal pikirannya, dan memorak-porandakan nuraninya, sehingga tidak tahu lagi arah mana yang harus ditempuh. Tidak tahu lagi mana yang haq dan mana yang bathil.

Oleh karena itu, barang siapa bergaul dan berteman dengan orang-orang yang hatinya mati seperti ini, berarti hanya mencari penyakit saja. Ketika di dunia saja terhadap perkataan dan tingkah laku - bahkan mendengar namanya sekalipun - orang yang hatinya sudah mati, orang-orang menjadi jijik melihatnya. Kalau selama hidupnya tidak sempat bertaubat dan segera mengubah diri, insya Allah di akhirat nanti ia akan menjadi santapan neraka jahanam. Dialah orang yang paling akan merasakan betapa kekejian yang pernah diperbuatnya tidak akan ke mana-mana, kecuali pasti akan kembali pada dirinya sendiri.

Wa man ya'mal mitsqaala dzarra-tin syarran yarah!
(Q.S. Az-Zalzalah [99]: 8).

Wallahua'lam